Selasa, 11 Desember 2012

Memakai Produk Lokal Untuk Menghargainya, Bukan Karena Terpaksa



[imagetag]

Hampir seluruh dunia kini sedang dilanda demam social media. Jangkauan internet yang semakin luas dan juga kemajuan teknologi mobile merupakan salah satu faktor pendorong kemajuan di bidang interaksi tanpa tatap yang satu ini. Kini setiap orang di seluruh penjuru dunia bisa menikmati kemudahan berinteraksi dan mendapatkan informasi melalui Facebook dan Twitter dengan mudahnya, di manapun, kapanpun. Namun ternyata tidak semua negara bisa menikmati situs-situs yang sedang populer ini. Salah satunya adalah: China. Ya, China! Bayangkan saja negara dengan populasi terbesar di dunia dengan lebih dari 1 milyar penduduk tidak dapat menikmati akses Facebook dan Twitter dengan bebas. Bagaimana mungkin Facebook melewatkan kesempatan untuk menambah usernya dengan tidak melakukan penetrasi sama sekali ke negara yang satu ini? Yak, jawabannya adalah: censorship! China adalah negara yang menerapkan aturan sangat ketat terhadap kebebasan berbicara untuk penduduknya. Pemerintah China mengharuskan setiap situs lokal untuk melakukan self-censorship. Jika tidak menaati peraturan ini, bisa dipastikan situs tersebut akan dimatikan oleh pemerintah. Otomatis situs luar negeri yang menjunjung kebebasan berpendapat tidak mendapatkan izin untuk dapat diakses oleh orang-orang China. Mungkin ini merupakan sesuatu hal yang buruk, tetapi tetap ada hal positif yang dapat mereka ambil. Dengan dibloknya layanan dari website seperti Facebook dan Twitter, startup lokal China mulai bermunculan dengan menawarkan layanan yang sama seperti Facebook dan Twitter. China kini punya Facebook dan Twitter versi mereka sendiri yang dapat mereka banggakan. Sebut saja Renren, Kaixin, dan Weibo. Bahkan untuk mesin pencari, mereka tidak menggunakan Google, melainkan produk lokal sendiri bernama Baidu. Di Indonesia, segalanya lebih bebas, tidak ada censorship. Facebook dan Twitter tentu saja boleh diakses dengan bebas di sini. Namun kepopuleran dua situs ini juga jangan sampai membuat kita berhenti untuk mengeksplorasi produk lokal. Indonesia juga memiliki jejaring sosial sendiri, salah satunya Mindtalk. Dan memang Mindtalk ini sekarang menjadi satu-satunya jejaring sosial berskala masif di Indonesia. Mindtalk sendiri adalah jejaring sosial berbasis interest atau ketertarikan. Mindtalk menyediakan ruang sendiri untuk menampung ketertarikan para penggunanya dalam bentuk channel, selain itu dari sisi interface Mindtalk mengadopsi sistem real time stream sehingga memungkinkan usernya untuk memposting secara cepat. Mungkin kita sudah memiliki akun Facebook dan Twitter, namun tidak ada salahnya kan kita juga menggunakan Mindtalk sebagai salah satu dukungan kita akan produk anak bangsa? Lagipula untuk mencoba produk seperti ini tidak diperlukan biaya sepeserpun, bukan? Dukungan yang kita berikan terhadap produk IT lokal berpengaruh besar terhadap ekosistem IT dalam negeri nantinya. Jika sudah banyak yang menggunakan produk lokal, pada akhirnya nanti pengembang-pengembang lokal juga akan terpacu untuk semakin banyak membuat produk-produk yang lain. Semakin banyak produk yang dihasilkan tentu akan semakin menguntungkan pengguna juga. Hubungan timbal balik seperti inilah yang diharapkan. Di China orang menggunakan produk lokal karena terpaksa, jangan sampai hal tersebut terjadi di Indonesia. Seharusnya dengan kebebasan yang ada di Indonesia, kita bisa lebih mengeksplorasi lagi kekayaan lokal. Jangan hanya menggunakan produk lokal karena terpaksa, gunakanlah produk lokal karena kita ingin menghargainya.

!/post/50405eaff7b73023c5001bf9

Sumber

#bcfda5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar